Thursday, November 18, 2010

Haree geenee,,,Masih mau jadi mahasiswa diatas standar??

Siapa yang menginginkan IPK > 3.00?

Siapa yang ingin menjadi memanfaatkan masa kuliah selama 4 tahun dengan cerita yang luar biasa?

Siapa yang ingin menjadi mahasiswa yang memiliki jaringan yang luas?

Siapa yang menginginkan menjadi lulusan yang diincar banyak perusahaan bonafit?

Siapa yang menginginkan pengalaman mengelola organisasi sebagai bekal untuk mengelola perusahaan kelak?

Hanya mimpi dan kemauan kita masing-masing yang bisa menjawab itu semua. Pernah suatu saat saya mengikuti forum diskusi di kampus tentang bagaimana peran pemuda. Satu kalimat dari pembicara yang saya ingat betul adalah “Jangan pernah kalian wariskan cerita sederhana kepada anak cucu kalian”. Sebuah kalimat pendek yang mengingatkan kita semua untuk tidak menyiakan setiap kesempatan menghimpun cerita-cerita hebat yang nantinya akan kita wariskan pada adik, anak serta cucu kita nantinya.

Banyak yang bisa kita lakukan saat ini. Masih banyak ladang yang bisa kita tanami dengan semangat kita disini, disaat kita menjadi mahasiswa dikampus kita Universitas Jenderal Soedriman. Bersyukurlah, di kampus kita saat ini iklim organisasi tumbuh begitu subur. Coba lihatlah 12 tahun silam, dimana kakak-kakak kita berjuang untuk mendobrak rezim yang membungkam suara mahasiswa, rezim yang mengkerdilkan setiap pemikiran kreatif kita. Bukan tanpa sebab, bukan tanpa alasan mahasiswa saat itu melakukan unjuk rasa terhadap pemerintahan berkuasa orde baru. Selain karena alasan politis lainnya, terdapat alasan mendasar untuk menuntut hak dasar sebagai warga Negara berkedudukan sama. Yaitu, selama masa orde baru hak berpendapat sangat dikekang, termasuk hak berkumpul dan berserikat yang dijamin oleh UUD 1945 pasal 28 E ayat 3 pun tidak diindahkan oleh pemerintahan saat itu. Hal itu berimbas pada kebebasan mahasiswa untuk berorganisasi. Iklim saat itu sangatlah tidak mendukung untuk mahasiswa belajar berorganisasi, berbeda dengan iklim yang saat ini kita alami. Dimana ruang bagi kita untuk tidak bersyukur atas kondisi yang lebih baik ini? Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri semua ini.

Lantas bagimana cara kita mensyukuri semua itu selain dengan memanfaatkan kondisi dan kesempatan yang telah kita miliki saat ini? Jangan biarkan pengorbanan kakak-kakak kita untuk memperjuangkan semua ini disia-siakan oleh kita. Disiakan oleh nafsu kita untuk menjadi sekedar mahasiswa pengejar nilai, disiakan oleh pikiran sempit kita yang memandang sempit aktivitas berorganisasi. Bergeraklah atau kalah!!

Organisasi kemahasiswaan dikampus banyak warnanya, banyak ragamnya. Pada dasarnya semua organisasi adalah baik, karena sama-sama bertujuan untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia yang dinaunginya. Jadi tentukanlah pilihan kita saat ini, sebelum masa ini berlalu, sebelum semua ini terlambat kita jemput.

Trus bagaimana memilih organisasi? yang pasti pilihlah sesuai dengan minat kita. Satu hal yang harus kita garisbawahi adalah pilihlah sebuah organisasi yang sesuai minat dan nyaman bagi kita untuk menggali potensi diri. Organisasi kamus merupakan tempat yang tepat untuk belajar dan memang ruang itu diciptakan sebagai sarana bagi mahasiswa untuk menggali sedalam-dalamnya potensi yang ada dalam diri mahasiswa yang tidak bisa di gali dari ruang perkuliahan.

Masih pengen jadi mahasiswa diatas mahasiswa standar?

Menjadi seorang aktivis kampus atau tidak adalah menjadi pilihan masing-masing individu. Banyak yang bisa didapatkan seseorang saat memutuskan untuk mengenal organisasi, terlebih pada masa mahasisswa. Dapat dikatakan masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa emas bagi seorang pemuda untuk mengembangkan potensi dirinya, mulai dari bagaimana bersosialisasi dalam team dengan banyak karakter didalamnya, bagaimana berpikir strategis untuk membuat kreasi yang menggebrak, bagaimana memenej waktu -yang nanti akan bersinggungan antara kuliah, organisasi serta pribadi- dan banyak lainnya yang semua itu tidak mungkin didapatkan tanpa jembatan ini, jembatan yang kita sebut organisasi.

Terlebih kita adalah generasi management, generasi yang memang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi yang akan kita pimpin kelak entah itu perusahaan ataupun instansi pemerintahan. Akan menjadi sesuatu yang konyol saat kita hanya mendewakan IPK sebagai tujuan utama. Lantas bagaimana kita menunjukan kemanfaatan kita sebagai manusia untuk manusia lainnya? Bagaimana kita memadukan antara ilmu teori–teori dari buku teks dengan kenyataan sebenarnya?

Sudah menjadi hal yang wajib bagi generasi management untuk berorganisasi, untuk terorganisir dan untuk mengorganisir. Disinilah setiap potensi kepemimpinan kita akan digali. Disinilah kita ditempa untuk bersiap terjun dengan realita masyarakat yang nantinya akan kita hadapi selepas dari perguruan tinggi. Disinilah tempat kita bisa memadukan antara ilmu teori dengan kenyataan yang ada. Bukankah ilmu tanpa praktek hanya akan menjad omong kosong? Jangan biarkan ilmu teori yang kita dapat hanya menjadi teori kosong. Jadikanlah organisasi kampus sebagai tempat kita belajar menerapkan ilmu yang telah kita dapat dan mendapatkan ilmu lain yang tidak didapat di ruang kuliah. Jadi, tunggu apalagi? masih mau jadi mahasiswa diatas mahasiswa standar? Mari bersama kita siapkan cerita hebat untuk penerus kita nantinya. Bangkitlah kawan..jalan itu masih terbentang!!!

Sudah saatnya generasi management memimpin disemua lini lingkungan kita.

Be management, be organizer, be leader!!!

To be #1 Spirit:

Semangat Ka emkabe!!!!

Tuesday, November 16, 2010

Cara Kita Berbeda, Tapi Perjuangan Kita Sama

Presiden Pertama RI, Soekarno pernah berkata ”1000 orang tua hanya bisa bemimpi, dan 10 orang pemuda bisa menggemparkan dunia”. Apa yang dikatakan Soekarno mencermikan besarnya potensi yang dimiliki oleh pemuda Indonesia, sehingga ia pun berani menggambarkan bahwa hanya dengan 10 orang pemuda saja bisa mengguncangkan dunia. Banyak yang dapat dilakukan pada saat seseorang melewati masa menjadi pemuda. Lihatlah peristiwa sumpah pemuda yang didorong oleh para pemuda dari setiap suku bangsa yang membawa semangat untuk bersatu di bawah bendera Indonesia. Lihat pula peristiwa Proklamasi yang didorong dan didesak oleh para pemuda yang ingin bangsanya merdeka bukan dari hasil mengemis pada penjajah. Lihatlah pada saat desakan reformasi pada tata pemerintahan yang sangat korup pada 12 tahun silam yang dipelopori oleh semangat pemudanya yang tidak ingin negerinya dijajah oleh nafsu birokrat yang busuk. Semua peristiwa yang menghasilkan gebrakan besar ditorehkan oleh para pemuda, oleh jiwa-jiwa yang menginginkan perbaikan, yang menginginkan kehormatan akan harga diri, yang menginginkan kemanfaatan dari dirinya untuk orang lain. Ambisius, penuh mimpi, energik, penuh taktik revolusioner itulah pemuda kemenangan.

Namun, apa yang terjadi saat ini di negeri kita setelah reformasi berhasil dilahirkan? Dimana para pemuda yang dulu berapi-api menyuarakan semangat kebersamaan? setelah sebelumnya mereka bersatu memperjuangkan, menyuarakan keadilan dalam era Indonesia yang baru. Bukan kesalahan mutlak jika saat ini kita mengatakan pemuda Indonesia saat ini berada dalam kondisi layaknya sedang mengalami euphoria terhadap angin reformasi yang berhasil dilahirkan, mereka berlomba-lomba memenangkan kepentingannya. Pemuda terlalaikan oleh ambisi dan ego mereka sendiri.

Indonesia yang dulu pemudanya bersatu, pemuda yang dulu sangat dibanggakan sangat diharapkan oleh soekarno untuk menyuarakan kehebatan Indonesia dihadapan bangsa lainnya. Kini mereka terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang ambisius dan egois. Mereka tetap konsisten memperjuangkan hak, bukan hak bersama tapi hak mereka masing-masing. Itulah realita pemuda Indonesia saat ini, mandul dengan kekuatan-kekuatan yang mereka kebiri sendiri dengan egoisme sempit kelompok. Mereka melupakan sejarah bahwa kita pemuda pernah satu, tidak hanya dalam slogan dan kata-kata tapi dalam realita perjuangan untuk satu negeri, INDONESIA. Mereka melupakan dasar pergerakan pemuda Indonesia, mereka telah melupakan nilai dasar Bhineka Tunggal Ika. Nilai luhur yang menginginkan Indonesia bersatu tanpa sekat tanpa kasta.

Dengan setiap potensi kemenangan yang dimiliki, pemuda menjadi sasaran untuk dilemahkan. Agar tidak banyak bersuara, agar sibuk dengan urusan kelompok sendiri. Bukannya mementingkan inti perjuangan yang dilakukan, pemuda saat ini justru sibuk mempermasalahakan setiap perbedaan yang ada. Setiap perbedaan menjadi lebih berarti untuk memisahkan antara kelompok yang satu dengan yang lainnya.

Cara kita berbeda, tapi perjuangan kita sama. Itulah nilai yang harus ditanamkan dalam benak masing-masing kita yang berjiwa muda.agar kita sadar bahwa kita adalah satu untuk Indonesia. Setiap egoisme dikembalikan pada nilai kebhinekaaan. Setiap perjuangan yang dilakukan adalah untuk Indonesia. Tidak mempermasalahkan pada hal-hal pembeda kecil. Dan fokus pada inti perjuangan, pemuda untuk negeri.

Pemuda dapat direpresentasikan dalam berbagai wujud, termasuk mahasiswa. Bukan memuja, tapi menggambarkan keidealan posisi dan tanggung jawab yang diemban mahasiswa. Mahasiswa diposisikan pada posisi yang amat strategis, posisi moderat diantara kalangan elit dan masyarakat umum. Dengan posisinya yang moderat, mahasiswa dapat bergerak fleksibel. Dapat dengan mudah diterima saat masuk ke kalangan elit dan dapat diterima dengan terbuka oleh masyarakat umum.

Universitas Jenderal Soedirman adalah tempat dimana saat ini kita berada, dimana saat ini kita berjuang mewujudkan ego mimpi-mimpi kita. Banyak potensi kepemudaan disini, di dalam diri generasi Soedirman. Dengan semangat untuk memberikan kemanfaatan pada manusia lainnya yang saat ini dimiliki akan menjadi investasi untuk menjadikan generasi Soedirman bergerak dalam semangat yang sama, semangat yang satu untuk INDONESIA. Semangat yang akan mengingatkan bahwa generasi Soedirman adalah generasi yang konsisten untuk memberikan kemanfaatan pada masyarakat luas dengan berbagai cara tujuan kita tetap sama, INDONESIA.

Perjuangan dapat ditempuh dengan berbagai cara dari berbagai jalur. Baik itu dari jalur politis untuk memfasilitasi suara masyarakat akan bentuk perlakuan ideal elit pemerintahan, ataupun dari jalur pendidikan untuk sedikit berbagi ilmu bersama masyarakat yang kurang beruntung . Ataupun dari jalur pemberdayaan generasi-generasi soedirman, generasi yang bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk belajar berbagi kemanfaaatan diri bagi manusia lainnya. Melalui organnisasi-organisasi yang tumbuh subur di kampus ini, generasi Soedirman dibentuk untuk belajar berjuang dengan cara mereka masing-masing. Menjadi besar bukanlah proses yang mudah, butuh komitmen waktu, tenaga dan pikiran serta proses yang konsisten untuk membelajarkan generasi Soedirman akan kemanfaatan diri.

Cara kita berbeda tapi perjuangan kita sama. Itulah nilai kita. Tidak perlu memebesar-besarkan perbedaan kecil, tapi menjadikan setiap perbedaan menjadi potensi kekuatan pergerakan mahasiswa. Selama tujuan kita sama, tidak perlu mendramatisir setiap perbedaan cara yang kita lakukan. Lakukanlah apa yang kita masing-masing mampu lakukan untuk negeri ini. Bukankah masing-masing kita memiliki kewajiban untuk memperjuangkan kebaikan?

Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)